andinananina

Nada yang Terbungkam

Posted on: September 13, 2011

ini sequel dari cerpenku yang -Nada Cinta yang Memanggilku- judulnya Nada yang Terbungkam. kalo yang mudeng diem aja ya.. Bungkam mulutmu!!!hahaha ;D

Nada yang Terbungkam

            Aku duduk manis di serambi kelas di pagi yang dingin ini. Jaket ungu kesayanganku juga masih melekat di tubuhku. Ku amati seluruh siswa yang lewat di depan kelasku. “Kelas yang strategis.” batinku. Dari sini aku bisa melihat orang-orang berseragam sama sepertiku yang sedang menuju ke ruang belajar mereka masing-masing, tak terkecuali dia yang aku tunggu sekarang. Sejak tadi sosok yang aku harapkan belum muncul juga, padahal lima menit lagi bel tanda pelajaran dimulai berbunyi.

“Hayoo…nungguin siapa???” seru Hani yang membuatku terkejut.

“Ah. Kaget tau!!!” dengan pasang muka cemberut aku menjawabnya.

“Jiah..orang aku datang aja kamu nggak liat, pantes aja kamu kaget.” elaknya.

“Hehe. Ya sory, lagi konsen nih.” jawabku asal.

Kembali konsentrasiku aku curahkan pada koridor masuk itu. Masih menunggu sosoknya lewat. Tepat saat bel masuk berdering, seorang cowok dengan helm putih dan motor matic memarkir motornya dengan terburu-buru.

“Salah sendiri berangkat mepet” kataku menyalahkan orang itu.

“Apa?” Hani yang ternyata sudah duduk di sampingku mendengar gumamanku.

“Emang aku ngomong apa?nggak sadar tuh.” jawabku sambil senyum lebar berbohong.

Ku lihat lagi cowok itu, sepertinya sekarang cowok itu juga sedang memandang ke arah depan kelasku, yang mungkin lebih tepatnya ke arahku. Dia tersenyum, dalam keadaan terburu-buru pun ia menyempatkan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya dengan senyum termanis yang aku punya, sambil sesekali melirik ke orang-orang yang ada di sampingku, memastikan mereka tidak melihat adegan sinetron itu.

Adegan seperti itu memang pasti terjadi saat aku bertemu dengannya selama lima bulan terakhir ini, dan tak ada satu pun yang tau tentang itu semua. Terlalu pintarnya aku yang menyembunyikan ataukah teman-temanku yang tidak peka. Entahlah…

Di lima bulan terakhir ini hari-hariku terasa lebih indah. Senyum selalu mengembang di wajahku, dan bahagia selalu menyelimuti hatiku. Ya, itu semua karena cowok itu, cowok itu selalu menemaniku di pagi,siang,sore,bahkan malam hari. Di salah satu aplikasi untuk chatting, aku dan dia menjalani hari-hari selama lima bulan ini.

Cerita antara aku dan dia memang tidak biasa, bertemu karena alunan nada, menjalani hari di dunia maya, dan anehnya untuk bertukar sapa pun kita belum pernah padahal sudah lima bulan kita bersama-sama, lima bulan termasuk waktu yang cukup lama untuk saling mengenal. Apalagi mengingat kenyataan bahwa dulu aku mengaguminya, tetapi tak pernah sedikitpun aku berani untuk mengatakannya. Tetapi sekarang, ya bisa dibilang kita saling mengisi hari-hari,kita lewati sedih senang bersama, layaknya remaja yang berikatan cinta.

Aku dan dia sudah terbiasa membungkam cerita seakan melarang publik agar tak tau tentang hubungan ini. Cukup mudah memang jika telah terbiasa. Rasanya pun lebih menyenangkan jika hanya aku, dia, dan Tuhan yang mengetahui hubungan ini. Walau kadang ada sedikit rasa kecewa, karena aku tak bisa meluapkan perasaan ini kepada siapapun,rasa suka kepadanya yang sudah lama aku pendam tapi tak mampu aku ungkapkan. Karena perasaan kami memang hanya aku dan dia yang tau, aku dan Kak Indra.

Semua berjalan baik sampai suatu saat ada seorang teman Kak Indra yang menyadari bahwa di antara tatapan kami ada sesuatu yang tidak biasa. Mungkin seperti tatapan tulus menyayangi seseorang, sehingga terasa begitu hangat dan menentramkan. Sampai-sampai dia bertanya pada Kak Indra

“In, de’e seneng tho karo Andin?” ¹ tanyanya dengan logat jawa tulen.

Ha kok?”² jawab Kak Indra dengan agak salah tingkah.

Ket mau ndelokke wae.”³ Jawab teman Kak Indra yang ternyata bernama Kak Irul.

Kak Indra pun tidak  bisa menjawabnya. Mungkin ia sendiri bingung dengan jawaban pertanyaan itu, ya atau tidak.

Satu persatu orang-orang pun tau mengenai hubungan kita ini, di mulai dari aku yang keceplosan ngomong, tingkah kita yang selalu salting saat bertemu, sampai ada juga  pihak-pihak yang membocorkan ini semua gara-gara nggak rela kalau aku sama Kak Indra.

Untuk meredam cerita ini pun susah sekali, gosip dengan mudah menyebar sehingga membuat hubunganku dengannya mulai agak merenggang. Ingin rasanya menyalahkan orang-orang yang bermulut ember itu yang membuat keadaan ini menjadi tidak nyaman. Tapi mau gimana lagi, ini sudah jadi resiko yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. Rasanya nggak ikhlas banget harus membungkam alunan nada indah ini. Nada indah yang aku dan dia ciptakan yang harusnya bisa di dengar oleh semua orang dengan terpaksa harus diredam.

 

  1.        Kamu suka kan sama Andin?
  2.        Kok bisa?
  3.        Dari tadi ngliatin terus.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 Tanggapan to "Nada yang Terbungkam"

ihirrrr juga ndin…..

cepren dari hati yak..?
:p

kq g da lanjutane, ndin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

September 2011
S S R K J S M
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

it’s me

ndinndun

%d blogger menyukai ini: