andinananina

Nada Cinta yang Memanggilku

Posted on: September 13, 2011

iseng-iseng bikin cerpen, terinspirasi dari beberapa kejadian yang ‘mungkin’ pernah aku alami. terus aku kasih judul  -Nada Cinta yang Memanggilku-  Enjoy the story 😀

            Terik matahari siang ini, membuat tubuh mungilku bersimbah peluh. Kaki ini sudah melangkah untuk meninggalkan ruangan belajar itu, tapi cuaca ini segera mengurungkan niatku. Jadilah sekarang aku duduk di serambi kelas, melihat keramaian yang dibuat oleh bel yang berdering beberapa menit yang lalu. Aku sudah seperti punya ritual, selalu datang dan pergi ketika suasana masih dan sudah sepi, rasa betah untuk tinggal ini tak beralasan dengan jelas kecuali karena aku menikmatinya.

Suasana seperti ini memang tidak bersahabat,tak seperti seseorang yang duduk di sampingku ini, seorang cewek berambut pendek yang selalu setia menghabiskan waktu pulang sekolah bersamaku. Waktu berlalu sangat cepat, dan tak terasa pukul 3 pun berlalu begitu saja. Ketika aku dan sahabatku ini mulai berniat untuk kembali ke rumah masing-masing, tiba-tiba terdengar sayup-sayup nada yang keluar dari tuts keyboard yang ditekan dengan lembut, membuatku mengurungkan niat untuk pulang. Terasa sekali si pemain keyboard itu belum fasih memainkan lagu für elise yang sedang ia mainkan, banyak terdengar nada-nada meleset yang sebenarnya tak mempengaruhi kenyamananku untuk mendengarkannya.

“Denger suara itu nggak Koh?” aku bertanya kepada cewek di sebelahku,yang biasa ku panggil Kokoh.

“Ya denger. Kenapa emang?” jawabnya dengan nada heran.

“Bagus banget ya. Aku jadi penasaran, siapa ya yang main keyboard?” jawabku dengan konsentrasi yang masih pada suara itu.

“Hu’um,setuju‼ Ya liat aja sono, palingan suaranya juga dari ruang musik. Aku tunggu sini deh, apa meh tak anter?” Jawab Kokoh bersemangat..

“Ah nggak ah, ntar jadi nggak penasaran lagi deh.hahaha” Jawabku sambil tertawa kecil memperlihatkan gigi gingsulku yang kata orang-orang membuatku terlihat manis.

Sebenarnya aku hanya berbohong, bukan maksud tak ingin melihat orang itu secara langsung tetapi buatku ruang musik adalah tempat yang patut dihindari, mungkin karena untuk seseorang yang tak pandai bermain musik, tempat ini bisa membuat seseorang tak berdaya, dalam konteks ini aku juga termasuk di dalamnya. Jadi, aku hanya bisa pasang kuping dan konsentrasi penuh dari serambi kelas ini karena jarak antar ruangan ini yang cukup jauh, tetapi semua itu tak menyurutkan antusiasku, ya walaupun di dalam hati masih penasaran siapa sebenarnya orang yang telah membuaiku dengan nada-nada indahnya itu.

Tujuh hari telah berlalu, dan selama tujuh hari itu aku selalu terbuai dengan keindahan nada yang di mainkan oleh ‘si misterius’. Sempat beberapa kali aku mencoba menyelidiki siapa dia sebenarnya, tapi pintu ruangan dimana dia memainkan keyboardnya itu selalu tertutup rapat. Sampai saat ini, kualitas permainan keyboardnya menurutku yang orang awam semakin meningkat, terlebih lagi sekarang ia bisa memainkan lagu für elise dengan lancar, tanpa ternodai lagi dengan nada-nada yang tak pada tempatnya.

Aku merasa heran dengan diriku sendiri, tidak seperti biasanya aku punya minat sebesar ini dengan musik, parahnya ketika ‘si misterius’ memainkan tuts-nya, jantung selalu berdegup lebih kencang, aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan ini.

Hari sudah kembali lagi ke Senin, dan kali ini aku masih seperti biasa menunggu seseorang memainkan tuts keyboardnya, yang biasanya tepat pukul 2 siang pertunjukan itu di mulai. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu, nada yang biasanya sayup-sayup ku dengar, sama sekali tak sampai ke telingaku padahal sekarang sudah lebih dari waktu biasa ia memulai pertunjukan gratisnya. Hatiku mulai resah, jangan-jangan sesuatu terjadi kepadanya. Aku tak tenang, pikiranku melayang memikirkan alasan-alasan logis yang bisa membuatku yakin bahwa tak ada hal buruk yang menimpanya.

Lima hari sudah dia mangkir dari tugasnya menghibur hati anak manusia yang satu ini. Suasana sepulang sekolah menjadi sepi tanpa rangkaian nada yang ia mainkan. Entah kenapa aku merasa sedikit kehilangan, mungkin tidak hanya sedikit tapi aku sangat kehilangan.

Hari Sabtu ini merupakan hari yang menyibukkan buatku karena hari ini aku harus mengurusi anggota teater yang besuk Senin akan mengikuti FLS2N di Semarang. Mau bagaimana lagi, semua urusan teater tahun ini adalah tanggung jawabku sebagai sub seksi OSIS yang bertanggung jawab atas berjalannya extra teater. Saat sedang sibuk mencari Waka Kesiswaan, yang mungkin tidak sadar bahwa kehadirannya sedang sangat dibutuhkan, jantungku berdegup saat jarakku dengan ruang musik semakin dekat. Degup jantung yang sama seperti saat aku mendengarkan lagu für elise yang dimainkan oleh ‘si misterius’, dan ternyata feelingku tepat, dia telah kembali,dia telah bersama tuts-tuts keyboardnya yang selama ini aku rindukan suaranya. Perasaan yang aku rasakan campur aduk, antara senang, lega, penasaran, dan mungkin juga salah tingkah.

Dengan refleks aku mendekat ke arah jendela, dan mengintip ke dalam ruangan itu. Terkejut adalah apa yang aku rasakan pertama kali, karena disana telah berdiri seorang cowok yang membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung tapi dari postur tubuhnya saja aku sudah dapat mengenalinya,apalagi dari rambutnya yang mungkin hanya dia yang punya rambut itu di sekolah ini.

Ternyata seseorang yang telah menyenangkan aku dengan permainan keyboardnya adalah orang yang sama yang pernah memikatku pada tatapan pertama. Seorang figur kakak kelas yang baik, ramah, pandai, pujaan para wanita dan sekarang baru aku tau ternyata dia juga jago main musik. Sosok yang benar-benar hanya ada dalam mimpi, jadi selama ini aku hanya memendam atau lebih tepatnya mengubur khayalanku tentangnya.

Pikiranku melayang memutar semua memori pada awal tahun ajaran kemarin, saat pertama kali aku mengetahui sosok itu, sampai-sampai rak sepatu sebesar gajah yang ada di sampingku tak aku pedulikan, alhasil aku menabraknya dan dengan refleks aku terkejut “awww..” teriakan yang cukup kencang sehingga membuat penghuni ruangan yang sedang aku amati itu menoleh. Saat melihatku, ia tersenyum. ”Senyum yang manis.” pikirku. Tak tau apa yang harus aku lakukan, aku hanya berdiam diri dengan wajah yang mungkin sudah seperti kepiting rebus, bukan karena malu setelah ketahuan mengintip orang lain tapi lebih tepatnya terpesona dengan senyumannya.

‘Si misterius’ yang selama ini membuatku penasaran ternyata adalah kak Indra. Setelah aku tersadar dari lamunanku, aku teringat akan tugas utamaku. Segera aku menuju ruang Waka yang sedang menjadi tujuan utamaku. Kemudian ku tinggalkan Kak Indra yang masih menatapku, aku dapat melihat itu dari sudut mataku.

Malamnya, saat aku hampir memejamkan mata untuk sejenak melepas penat, ternyata hape kesayanganku bergetar, karena memang aku sengaja tak memasang nada dering agar tak mengganggu keluargaku yang lain. Sebuah panggilan dari ‘Dirahasiakan’. Sebenarnya aku tak pernah mengangkat telfon dari nomor tak dikenal, tapi untuk kali ini dari dalam hatiku bilang aku harus mengangkatnya.

“Haloo. Sapa ni?” jawabku males-malesan.

“Dek??” terdengar sepatah kata dari seberang. Sebuah suara yang tak asing buatku.

“ Emm..ya? ini ndak Kak Indra?” jawabku dengan ragu-ragu.

“iya dek. Ndak denger ini?” terdengar dentingan tuts keyboard dari arah telfon.

“denger…”

Dari speaker telfonku kemudian mengalun lagu für elise yang biasanya hanya ku dengar dari kejauhan. Kantuk yang aku rasakan langsung menghilang setelah mendengar rangkaian nada itu. Ku nikmati semua ini. Benar-benar menikmatinya, sampai-sampai nada itu sudah berganti dengan suara seorang cowok pun aku tak sadar. Satu hal yang ada di kepalaku saat ini hanya ucapan terimakasih, lalu ku lontarkan sepatah kata itu “Terimakasih.” Lalu telfon ditutup setelah ada jawaban “sama-sama”.

Kata yang simple, tapi bermakna besar buatku. Aku hanya ingin mengucap kata terimakasih untuk orang yang telah mengindahkan hari-hariku dengan nada-nada yang ia mainkan. Malam ini baru aku sadar bahwa selama ini nada-nada itu memanggilku untuk membuatku dekat dengannya. Akhirnya aku pun terlelap dengan senyum mengembang di wajahku.

andinaYD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

September 2011
S S R K J S M
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

it’s me

ndinndun

%d blogger menyukai ini: