andinananina

Archive for September 2011

pernah punya kenangan manis sama lagu ini 🙂

 

Iklan

ini sequel dari cerpenku yang -Nada Cinta yang Memanggilku- judulnya Nada yang Terbungkam. kalo yang mudeng diem aja ya.. Bungkam mulutmu!!!hahaha ;D

Nada yang Terbungkam

            Aku duduk manis di serambi kelas di pagi yang dingin ini. Jaket ungu kesayanganku juga masih melekat di tubuhku. Ku amati seluruh siswa yang lewat di depan kelasku. “Kelas yang strategis.” batinku. Dari sini aku bisa melihat orang-orang berseragam sama sepertiku yang sedang menuju ke ruang belajar mereka masing-masing, tak terkecuali dia yang aku tunggu sekarang. Sejak tadi sosok yang aku harapkan belum muncul juga, padahal lima menit lagi bel tanda pelajaran dimulai berbunyi.

“Hayoo…nungguin siapa???” seru Hani yang membuatku terkejut.

“Ah. Kaget tau!!!” dengan pasang muka cemberut aku menjawabnya.

“Jiah..orang aku datang aja kamu nggak liat, pantes aja kamu kaget.” elaknya.

“Hehe. Ya sory, lagi konsen nih.” jawabku asal.

Kembali konsentrasiku aku curahkan pada koridor masuk itu. Masih menunggu sosoknya lewat. Tepat saat bel masuk berdering, seorang cowok dengan helm putih dan motor matic memarkir motornya dengan terburu-buru.

“Salah sendiri berangkat mepet” kataku menyalahkan orang itu.

“Apa?” Hani yang ternyata sudah duduk di sampingku mendengar gumamanku.

“Emang aku ngomong apa?nggak sadar tuh.” jawabku sambil senyum lebar berbohong.

Ku lihat lagi cowok itu, sepertinya sekarang cowok itu juga sedang memandang ke arah depan kelasku, yang mungkin lebih tepatnya ke arahku. Dia tersenyum, dalam keadaan terburu-buru pun ia menyempatkan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya dengan senyum termanis yang aku punya, sambil sesekali melirik ke orang-orang yang ada di sampingku, memastikan mereka tidak melihat adegan sinetron itu.

Adegan seperti itu memang pasti terjadi saat aku bertemu dengannya selama lima bulan terakhir ini, dan tak ada satu pun yang tau tentang itu semua. Terlalu pintarnya aku yang menyembunyikan ataukah teman-temanku yang tidak peka. Entahlah…

Di lima bulan terakhir ini hari-hariku terasa lebih indah. Senyum selalu mengembang di wajahku, dan bahagia selalu menyelimuti hatiku. Ya, itu semua karena cowok itu, cowok itu selalu menemaniku di pagi,siang,sore,bahkan malam hari. Di salah satu aplikasi untuk chatting, aku dan dia menjalani hari-hari selama lima bulan ini.

Cerita antara aku dan dia memang tidak biasa, bertemu karena alunan nada, menjalani hari di dunia maya, dan anehnya untuk bertukar sapa pun kita belum pernah padahal sudah lima bulan kita bersama-sama, lima bulan termasuk waktu yang cukup lama untuk saling mengenal. Apalagi mengingat kenyataan bahwa dulu aku mengaguminya, tetapi tak pernah sedikitpun aku berani untuk mengatakannya. Tetapi sekarang, ya bisa dibilang kita saling mengisi hari-hari,kita lewati sedih senang bersama, layaknya remaja yang berikatan cinta.

Aku dan dia sudah terbiasa membungkam cerita seakan melarang publik agar tak tau tentang hubungan ini. Cukup mudah memang jika telah terbiasa. Rasanya pun lebih menyenangkan jika hanya aku, dia, dan Tuhan yang mengetahui hubungan ini. Walau kadang ada sedikit rasa kecewa, karena aku tak bisa meluapkan perasaan ini kepada siapapun,rasa suka kepadanya yang sudah lama aku pendam tapi tak mampu aku ungkapkan. Karena perasaan kami memang hanya aku dan dia yang tau, aku dan Kak Indra.

Semua berjalan baik sampai suatu saat ada seorang teman Kak Indra yang menyadari bahwa di antara tatapan kami ada sesuatu yang tidak biasa. Mungkin seperti tatapan tulus menyayangi seseorang, sehingga terasa begitu hangat dan menentramkan. Sampai-sampai dia bertanya pada Kak Indra

“In, de’e seneng tho karo Andin?” ¹ tanyanya dengan logat jawa tulen.

Ha kok?”² jawab Kak Indra dengan agak salah tingkah.

Ket mau ndelokke wae.”³ Jawab teman Kak Indra yang ternyata bernama Kak Irul.

Kak Indra pun tidak  bisa menjawabnya. Mungkin ia sendiri bingung dengan jawaban pertanyaan itu, ya atau tidak.

Satu persatu orang-orang pun tau mengenai hubungan kita ini, di mulai dari aku yang keceplosan ngomong, tingkah kita yang selalu salting saat bertemu, sampai ada juga  pihak-pihak yang membocorkan ini semua gara-gara nggak rela kalau aku sama Kak Indra.

Untuk meredam cerita ini pun susah sekali, gosip dengan mudah menyebar sehingga membuat hubunganku dengannya mulai agak merenggang. Ingin rasanya menyalahkan orang-orang yang bermulut ember itu yang membuat keadaan ini menjadi tidak nyaman. Tapi mau gimana lagi, ini sudah jadi resiko yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. Rasanya nggak ikhlas banget harus membungkam alunan nada indah ini. Nada indah yang aku dan dia ciptakan yang harusnya bisa di dengar oleh semua orang dengan terpaksa harus diredam.

 

  1.        Kamu suka kan sama Andin?
  2.        Kok bisa?
  3.        Dari tadi ngliatin terus.

 

 

 

 

 

 

 

iseng-iseng bikin cerpen, terinspirasi dari beberapa kejadian yang ‘mungkin’ pernah aku alami. terus aku kasih judul  -Nada Cinta yang Memanggilku-  Enjoy the story 😀

            Terik matahari siang ini, membuat tubuh mungilku bersimbah peluh. Kaki ini sudah melangkah untuk meninggalkan ruangan belajar itu, tapi cuaca ini segera mengurungkan niatku. Jadilah sekarang aku duduk di serambi kelas, melihat keramaian yang dibuat oleh bel yang berdering beberapa menit yang lalu. Aku sudah seperti punya ritual, selalu datang dan pergi ketika suasana masih dan sudah sepi, rasa betah untuk tinggal ini tak beralasan dengan jelas kecuali karena aku menikmatinya.

Suasana seperti ini memang tidak bersahabat,tak seperti seseorang yang duduk di sampingku ini, seorang cewek berambut pendek yang selalu setia menghabiskan waktu pulang sekolah bersamaku. Waktu berlalu sangat cepat, dan tak terasa pukul 3 pun berlalu begitu saja. Ketika aku dan sahabatku ini mulai berniat untuk kembali ke rumah masing-masing, tiba-tiba terdengar sayup-sayup nada yang keluar dari tuts keyboard yang ditekan dengan lembut, membuatku mengurungkan niat untuk pulang. Terasa sekali si pemain keyboard itu belum fasih memainkan lagu für elise yang sedang ia mainkan, banyak terdengar nada-nada meleset yang sebenarnya tak mempengaruhi kenyamananku untuk mendengarkannya.

“Denger suara itu nggak Koh?” aku bertanya kepada cewek di sebelahku,yang biasa ku panggil Kokoh.

“Ya denger. Kenapa emang?” jawabnya dengan nada heran.

“Bagus banget ya. Aku jadi penasaran, siapa ya yang main keyboard?” jawabku dengan konsentrasi yang masih pada suara itu.

“Hu’um,setuju‼ Ya liat aja sono, palingan suaranya juga dari ruang musik. Aku tunggu sini deh, apa meh tak anter?” Jawab Kokoh bersemangat..

“Ah nggak ah, ntar jadi nggak penasaran lagi deh.hahaha” Jawabku sambil tertawa kecil memperlihatkan gigi gingsulku yang kata orang-orang membuatku terlihat manis.

Sebenarnya aku hanya berbohong, bukan maksud tak ingin melihat orang itu secara langsung tetapi buatku ruang musik adalah tempat yang patut dihindari, mungkin karena untuk seseorang yang tak pandai bermain musik, tempat ini bisa membuat seseorang tak berdaya, dalam konteks ini aku juga termasuk di dalamnya. Jadi, aku hanya bisa pasang kuping dan konsentrasi penuh dari serambi kelas ini karena jarak antar ruangan ini yang cukup jauh, tetapi semua itu tak menyurutkan antusiasku, ya walaupun di dalam hati masih penasaran siapa sebenarnya orang yang telah membuaiku dengan nada-nada indahnya itu.

Tujuh hari telah berlalu, dan selama tujuh hari itu aku selalu terbuai dengan keindahan nada yang di mainkan oleh ‘si misterius’. Sempat beberapa kali aku mencoba menyelidiki siapa dia sebenarnya, tapi pintu ruangan dimana dia memainkan keyboardnya itu selalu tertutup rapat. Sampai saat ini, kualitas permainan keyboardnya menurutku yang orang awam semakin meningkat, terlebih lagi sekarang ia bisa memainkan lagu für elise dengan lancar, tanpa ternodai lagi dengan nada-nada yang tak pada tempatnya.

Aku merasa heran dengan diriku sendiri, tidak seperti biasanya aku punya minat sebesar ini dengan musik, parahnya ketika ‘si misterius’ memainkan tuts-nya, jantung selalu berdegup lebih kencang, aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan ini.

Hari sudah kembali lagi ke Senin, dan kali ini aku masih seperti biasa menunggu seseorang memainkan tuts keyboardnya, yang biasanya tepat pukul 2 siang pertunjukan itu di mulai. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu, nada yang biasanya sayup-sayup ku dengar, sama sekali tak sampai ke telingaku padahal sekarang sudah lebih dari waktu biasa ia memulai pertunjukan gratisnya. Hatiku mulai resah, jangan-jangan sesuatu terjadi kepadanya. Aku tak tenang, pikiranku melayang memikirkan alasan-alasan logis yang bisa membuatku yakin bahwa tak ada hal buruk yang menimpanya.

Lima hari sudah dia mangkir dari tugasnya menghibur hati anak manusia yang satu ini. Suasana sepulang sekolah menjadi sepi tanpa rangkaian nada yang ia mainkan. Entah kenapa aku merasa sedikit kehilangan, mungkin tidak hanya sedikit tapi aku sangat kehilangan.

Hari Sabtu ini merupakan hari yang menyibukkan buatku karena hari ini aku harus mengurusi anggota teater yang besuk Senin akan mengikuti FLS2N di Semarang. Mau bagaimana lagi, semua urusan teater tahun ini adalah tanggung jawabku sebagai sub seksi OSIS yang bertanggung jawab atas berjalannya extra teater. Saat sedang sibuk mencari Waka Kesiswaan, yang mungkin tidak sadar bahwa kehadirannya sedang sangat dibutuhkan, jantungku berdegup saat jarakku dengan ruang musik semakin dekat. Degup jantung yang sama seperti saat aku mendengarkan lagu für elise yang dimainkan oleh ‘si misterius’, dan ternyata feelingku tepat, dia telah kembali,dia telah bersama tuts-tuts keyboardnya yang selama ini aku rindukan suaranya. Perasaan yang aku rasakan campur aduk, antara senang, lega, penasaran, dan mungkin juga salah tingkah.

Dengan refleks aku mendekat ke arah jendela, dan mengintip ke dalam ruangan itu. Terkejut adalah apa yang aku rasakan pertama kali, karena disana telah berdiri seorang cowok yang membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung tapi dari postur tubuhnya saja aku sudah dapat mengenalinya,apalagi dari rambutnya yang mungkin hanya dia yang punya rambut itu di sekolah ini.

Ternyata seseorang yang telah menyenangkan aku dengan permainan keyboardnya adalah orang yang sama yang pernah memikatku pada tatapan pertama. Seorang figur kakak kelas yang baik, ramah, pandai, pujaan para wanita dan sekarang baru aku tau ternyata dia juga jago main musik. Sosok yang benar-benar hanya ada dalam mimpi, jadi selama ini aku hanya memendam atau lebih tepatnya mengubur khayalanku tentangnya.

Pikiranku melayang memutar semua memori pada awal tahun ajaran kemarin, saat pertama kali aku mengetahui sosok itu, sampai-sampai rak sepatu sebesar gajah yang ada di sampingku tak aku pedulikan, alhasil aku menabraknya dan dengan refleks aku terkejut “awww..” teriakan yang cukup kencang sehingga membuat penghuni ruangan yang sedang aku amati itu menoleh. Saat melihatku, ia tersenyum. ”Senyum yang manis.” pikirku. Tak tau apa yang harus aku lakukan, aku hanya berdiam diri dengan wajah yang mungkin sudah seperti kepiting rebus, bukan karena malu setelah ketahuan mengintip orang lain tapi lebih tepatnya terpesona dengan senyumannya.

‘Si misterius’ yang selama ini membuatku penasaran ternyata adalah kak Indra. Setelah aku tersadar dari lamunanku, aku teringat akan tugas utamaku. Segera aku menuju ruang Waka yang sedang menjadi tujuan utamaku. Kemudian ku tinggalkan Kak Indra yang masih menatapku, aku dapat melihat itu dari sudut mataku.

Malamnya, saat aku hampir memejamkan mata untuk sejenak melepas penat, ternyata hape kesayanganku bergetar, karena memang aku sengaja tak memasang nada dering agar tak mengganggu keluargaku yang lain. Sebuah panggilan dari ‘Dirahasiakan’. Sebenarnya aku tak pernah mengangkat telfon dari nomor tak dikenal, tapi untuk kali ini dari dalam hatiku bilang aku harus mengangkatnya.

“Haloo. Sapa ni?” jawabku males-malesan.

“Dek??” terdengar sepatah kata dari seberang. Sebuah suara yang tak asing buatku.

“ Emm..ya? ini ndak Kak Indra?” jawabku dengan ragu-ragu.

“iya dek. Ndak denger ini?” terdengar dentingan tuts keyboard dari arah telfon.

“denger…”

Dari speaker telfonku kemudian mengalun lagu für elise yang biasanya hanya ku dengar dari kejauhan. Kantuk yang aku rasakan langsung menghilang setelah mendengar rangkaian nada itu. Ku nikmati semua ini. Benar-benar menikmatinya, sampai-sampai nada itu sudah berganti dengan suara seorang cowok pun aku tak sadar. Satu hal yang ada di kepalaku saat ini hanya ucapan terimakasih, lalu ku lontarkan sepatah kata itu “Terimakasih.” Lalu telfon ditutup setelah ada jawaban “sama-sama”.

Kata yang simple, tapi bermakna besar buatku. Aku hanya ingin mengucap kata terimakasih untuk orang yang telah mengindahkan hari-hariku dengan nada-nada yang ia mainkan. Malam ini baru aku sadar bahwa selama ini nada-nada itu memanggilku untuk membuatku dekat dengannya. Akhirnya aku pun terlelap dengan senyum mengembang di wajahku.

andinaYD


calendar

September 2011
S S R K J S M
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

it’s me

ndinndun